| Dirikan BLU, LIPI Jual Sperma Sapi |
|
|
|
| Ditulis oleh admin | |||||||
| Saturday, 07 March 2009 | |||||||
|
Kelemahan riset pada lembaga-lembaga pemerintah untuk inovasi teknologi industri salah satunya adalah mekanisme keuangan. Faktor tersebut dapat secara langsung menghilangkan potensi pendapatan royalti bagi periset yang sebenarnya inovatif.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mulai membenahi persoalan ini dengan membangun badan layanan umum (BLU). "Sudah ada tiga hasil riset yang diprioritaskan menjadi usaha pokok BLU dan penyaluran hasilnya bagi peneliti maupun institusi sudah ada ketentuan,” kata Kepala Pusat Inovasi LIPI Bambang Subiyanto, Senin (2/3) di Jakarta. Ketiga hasil riset yang diprioritaskan untuk usaha awal BLU LIPI tersebut adalah pembuatan suplemen makanan mineral rumput laut, alginat rumput laut, dan semen sperma sapi yang dapat menyesuaikan permintaan jenis kelamin anak sapi. Rumput laut termasuk salah satu komoditas yang mudah dikembangbiakkan di berbagai perairan di Indonesia. Budi daya rumput laut juga memiliki kontribusi dalam menciptakan ekologi yang mampu mengurangi risiko pemanasan global. Rumput laut mampu menyerap karbon dioksida yang hasilnya dapat bermanfaat bagi kesehatan. "Mineral dan alginat rumput laut untuk kepentingan ekspor, sementara produksi semen sperma sapi untuk memenuhi kebutuhan penggemukan sapi jantan atau peningkatan produksi susu sapi betina," kata Bambang. Intermediasi inovasi Sekretaris Dewan Riset Nasional (DRN) Tusy A Adibroto mengatakan, hasil pemetaan riset ilmiah dari berbagai lembaga riset menunjukkan ketiadaan intermediasi yang memadai mengakibatkan kerugian. "Bagi peneliti, ketiadaan intermediasi inovasi ini menjerumuskan peneliti ke sikap birokratis. Bagi industri, tidak ada inovasi hasil sendiri, selalu membeli teknologi asing," kata Tusy. Menurut Bambang, realisasi penerapan pola BLU bagi peneliti LIPI sudah 40 persen, 30 persen untuk institusi LIPI, dan 30 persen untuk institusi lembaga Pusat Inovasi LIPI. Mekanisme seperti ini sebelumnya diabaikan sama sekali sehingga para periset tidak optimal menjalankan tugasnya meriset. ”Kemungkinan lainnya, periset secara tertutup menyalurkan hasil inovasinya kepada industri. Kalau memang demikian, kerugian sebesar 60 persen diderita LIPI,” kata Bambang. Tusy mengatakan, DRN mulai mengarahkan pengembangan riset untuk meningkatkan kapasitas dan diseminasi serta peningkatan produksi bagi industri. Sebelumnya, pengembangan riset berbagai lembaga dan perguruan tinggi masih berorientasi sains dasar dan terapan.(kompas) Tags: teknologi industri LIPI Dewan Riset Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia LIPI badan layanan umum BLU Sperma sapi
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| Home |
| Kategori Artikel |
| Kirim Berita |
| Kontak |
| Tentang Kami |
| Forum Diskusi |
| Buku Tamu |
| Link Exchange |
| Pencarian Terbanyak |
| Sitemap |







![]() | Today | 394 |
![]() | Yesterday | 929 |
![]() | This month | 3299 |
Thanks Admin,artikelnya bagus, menamb...
waspada gan!!!