eXTReMe Tracker
OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.

Pilih Bahasa:


Login

Kommentar Terakhir

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday95
mod_vvisit_counterYesterday518
mod_vvisit_counterThis month2502
You are here: Home arrow Berita Terbaru arrow Berita Peternakan arrow Sapi Grobogan pun hidup susah

Download Our Toolbar. Free, Private and Secure
Jul 29 2008
Sapi Grobogan pun hidup susah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh admin   
Wednesday, 30 July 2008
Para peternak sapi di Kabupaten Grobogan mulai kelabakan karena kesulitan mencari tempat untuk menggembala hewan 'raja kaya' (sapi). Hampir seluruh lahan terbuka seperti lapangan, tegal, pematang dan sawah itu tidak ada lagi rumput tumbuh.
"Rumput banyak yang mati. Sehingga kami harus mencari rumput ke tepi hutan yang jaraknya cukup jauh. Berangkat pagi pulang siang. Itupun dapatnya tidak seberapa," kata Endro (45), warga Ngaringan, kemarin.

Hal sama diutarakan Tono (35), warga Desa Tanjungrejo. Karena kesulitan mencari rumput, ia terpaksa memberi makan sapinya dengan limbah jerami kering. "Jerami kering tersebut sengaja saya siapkan sejak panen padi bulan Maret 2008 lalu," terang Tono yang mengaku punya 2 ekor sapi.
Sementara bagi peternak besar, terpaksa harus mencari rumput ke luar kecamatan atau ke luar daerah. Mereka menggunakan truk. Tentu saja mereka mengeluarkan biaya tidak sedikit. Baik untuk membeli rumput atau limbah pertanian, juga untuk sewa truk.
"Karena biayanya cukup besar, terpaksa ada yang menjual sapinya untuk dibelikan pakan.  Atau sapi ”makan” sapi. Tetapi tidak masalah karena jika tidak demikian, tentu sapi kami akan kelaparan dan bisa kurus," ungkap Ahmad (50), warga Kradenan.
Sudah Terbiasa
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Grobogan drh H Gembong Murdowo MM mengatakan, peternak di Kabupaten Grobogan sudah terbiasa mengalami hal seperti itu.
"Bagaimana lagi karena setiap musim kemarau, banyak ladang gembala mengering. Sapi Grobogan sendiri juga sudah terbiasa makan jerami kering. Sehingga ketika musim panen padi, banyak petani yang menyimpan limbah pertanian untuk persediaan ternak sapinya pada musim kemarau," kata Gembong.
Meski peternak mulai kesulitan mencari rumput dan sejenisnya, ternyata peternak yang menjual sapi pada musim kemarau saat ini tidak begitu menonjol. Hal itu bisa dilihat di pasar hewan, sapi Grobogan yang lari ke luar daerah rata-rata setiap pasaran (5 hari sekali) hanya 600 ekor.
"Dampak kemarau ternyata juga tidak menjadikan harga sapi di daerah itu turun. Justru saat ini harga sapi naik, di atas Rp 20.000/ kg," terang Gembong.
Sapi asal Grobogan, kata Gembong, banyak disukai oleh peternak daerah lain karena selain kualitasnya, sapi dari daerah itu cara merawatnya juga mudah, karena diberi makan apa saja mau. "Karena sejak lahir, sapi Grobogan sudah dikondisikan oleh peternak seperti itu. Meski begitu, kualitas sapi yang ada cukup bagus. Karena sebagian besar bibit unggul seperti jenis segmental (warna merah), Brahman (putih), dan lemosin," jelas Gembong.
Diakuinya, populasi sapi di Grobogan saat ini cukup besar dibanding daerah lain di Jateng. Yakni ada 105.974 ekor. Yang menggembirakan lagi, sekitar 65.000 ekor di antaranya merupakan hasil insiminasi buatan (IB) atau kawin suntik.

Tags:  Berita Terbaru Berita Terbaru Sapi Grobogan pun hidup susah peternak Ib inseminasi buatan ladang mengering grobogan musim padi panen sapi jateng hewan gembala rumput hutan ngaringan bibit unggul peternak
Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Tag it:
Delicious
Furl it!
Spurl
Digg
Reddit
YahooMyWeb
NewsVine
< Sebelumnya   Berikutnya >
Creative Commons License