eXTReMe Tracker
OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.

Pilih Bahasa:


Login

Kommentar Terakhir

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday131
mod_vvisit_counterYesterday518
mod_vvisit_counterThis month2538
You are here: Home

Download Our Toolbar. Free, Private and Secure
Jul 23 2008
Ancaman Penyakit Pandemi Jemberana PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh admin   
Wednesday, 23 July 2008
Perkembangan peternakan sapi Bali dalam sepuluh tahun terakhir mengalami peningkatan yang signifikan. Di Tabanan dan Karangasem, misalnya, peningkatan populasi sapi Bali 26 ribu ekor. Sementara di Buleleng populasi sapi Bali naik 5,76 persen. Di balik peningkatan populasi sapi Bali di tiga kabupaten itu, ancaman penyakit pandemi Jemberana menjadi sumber ketakutan dalam pemeliharaan sapi Bali. Kendala apa saja yang dihadapi peternak sapi Bali dalam meningkatkan populasi sapi Bali?

Di Karangasem, misalnya, krisis air saat musim kemarau merupakan salah satu faktor penghambat pengembangan populasi sapi Bali. Padahal populasi sapi di Bali paling banyak berada di Karangasem. Hal itu disampaikan anggota DPRD Karangasem Nyoman Oka Antara, Senin (21/7) kemarin. Sementara anggota DPRD lainnya, IGA Karningasih, mengatakan di Karangasem pengembangan sapi Bali paling potensial di Kecamatan Rendang. Soalnya, hijauan pakan ternak seperti rumput gajah dan jenis tanaman lainnya hampir sepanjang tahun tersedia, mengingat kawasan Rendang termasuk daerah basah dengan sejuk.

Sayangnya, Karningasih mengatakan hambatan yakni ketersediaan air, terutama untuk minum ternak. Saat musim kemarau dan krisis air bersih, peternak sapi di Rendang seperti di Desa Pempatan membeli air dari penjual air menggunakan truk tangki. Harga air cukup tinggi tergantung dari jarak pembelinya.

Karningasih menyayangkan proyek embung di Puragae, Desa Pempatan, Rendang belum berfungsi. Soalnya, proyek embung dengan dana lebih dari Rp 3 milyar itu, justru rusak karena lantai plastiknya bocor, sehingga airnya mengering sebelum sempat dimanfaatkan penduduk di sekitarnya.

Populasi sapi di Karangasem mencapai lebih dari 60.000 ekor. Pengembangan sapi cukup potensial di Karangasem, kata Oka Antara, karena wilayahnya luas dengan 90% merupakan lahan kering. Peternak sapi di Kubu dan kecamatan lainnya seperti di Abang dan di Desa Seraya terhambat air minum. Proyek embung bernilai milyaran rupiah selama ini ternyata belum mampu mengatasi kekurangan air bersih.

Dikatakan, saat musim kemarau sapi di Kubu makan 'sapi'. Di mana, peternak menjual sapi-sapinya untuk dibelikan air minum. Dua ekor sapinya sengaja tak dijual sekadar untuk menarik bajak saat musim hujan tiba. 'Sementara sapi jantan lainnya dijual lebih dahulu agar tak rugi karena kurus atau bahkan mati karena kurang air minum dan pakan,' katanya.

Di Tabanan

Perkembangan peternakan sapi Bali dalam sepuluh tahun terakhir di Tabanan mengalami perkembangan yang baik. Kepala Dinas Peternakan Tabanan IGP Suandi, Senin (21/7) kemarin menyatakan untuk saat ini populasi sapi Bali di Tabanan sebanyak 62 ribu ekor. Jumlah ini jauh lebh tinggi dari tahun 2005 lalu yang hanya mencapai 58 ribu ekor. Namun banyak petani ternak dan pengusaha masih mengeluhkan, pertumbuhan sapi Bali lebih lambat dari sapi unggul di luar Bali. Sementara harga jual hanya bertaut tidak terlalu tinggi.

Dikatakan Suandi, dalam sepuluh tahun terakhir, hambatan dalam pemeliharaan sapi Bali sangat kecil. Malah dinyatakannya petani ternak diuntungkan karena dapat meningkatkan penghasilannya dengan memelihara sapi. Sebelumnya, ancaman penyakit pandemi Jemberana menjadi sumber ketakutan dalam pemeliharaan sapi Bali, tetapi penyakit itu dalam sepuluh tahun belakangan tidak lagi menjadi ancaman. Walau diakui kasus itu masih muncul secara sporadis pada beberapa tempat, tetapi dapat diatasi.

Sementara itu, beberapa upaya dilakukan dalam meningkatkan produksi sapi Bali seperti dengan inseminasi buatan (IB), untuk tetap mempertahankan keunggulan genetik sapi Bali. Dikatakan Suandi, degradasi genetik sapi Bali dapat dipertahankan dengan upaya IB melalui pemilihan sperma dari pejantan unggul.

Dikatakannya, hingga saat ini sapi Bali memiliki beberapa keunggulan seperti memiliki daya adapasi yang tinggi serta tingkat kesuburan yang sangat baik. Selain itu dapat tumbuh dan berkembang dengan pemberian pakan seadanya, sehingga masyarakat gampang memelihara. Pertumbuhan sapi Bali, kata Suandi, sangat dipengaruhi oleh genetik. Jika secara genetik baik, maka pertumbuhan optimal akan tercapai. Biasanya setiap hari sapi Bali mampu mengalami pertumbuhan 1 kg hingga 1,5 kg, sementara sapi unggul lainnya bisa mencapai 2 kg.

Kecamatan Baturiti yang subur dan dengan temperatur udara cukup dingin saat ini terkenal sebagai sentra peternakan di Tabanan. Camat Baturiti A.A. Dalem Tisna Ngurah sebelumnya menyatakan hampir semua keluarga petani di Baturiti memiliki hingga tiga ekor sapi. Selain menunjang ekonomi, keberadaan sapi juga berpengaruh penting bagi dunia pertanian sebagai penyedia pupuk kandang.

Sementara itu, salah satu pengusaha sapi asal Baturiti mengeluhkan sulit mencari bibit unggul sapi Bali dan memiliki genetik yang baik. Pertumbuhan sapi Bali juga dinilainya lebih lambat dari sapi unggul di luar Bali, sementara pertautan harga kecil. Dengan demikian, dalam usaha peternakan sapi Bali, keuntungannya lumayan tipis. 'Pemerintah semestinya melakukan upaya guna meningkatkan keunggulan genetik sapi Bali serta berani meningkatkan harga agar para peternak mendapatkan keuntungan yang lebih,' ujar pengusaha penggemukan dan perdagangan sapi antardaerah ini.

Naik 5,76 Persen

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Buleleng Ir. Putu Ardika menyatakan setuju jika sapi Bali dipatenkan. Ini dilakukan agar kelestarian sapi Bali tetap terjaga dan bisa menjadi tuan rumah di Bali. Apalagi permintaan akan sapi Bali dari luar Bali tidak pernah sepi.

Untuk menjaga kelestarian sapi Bali itu, ia menyarankan peternak sapi Bali untuk tidak menjual sapi yang masih produktif atau memasarkan bibit sapi Bali ke luar daerah. 'Lebih baik hanya melayani permintaan dalam bentuk daging saja,' katanya.

Terkait populasi sapi Bali di Buleleng, Ardika mengatakan terus meningkat. Mulai tahun 2005 populasi sapi Bali di Buleleng berjumlah 121.276 ekor. Memasuki tahun 2006 populasinya naik menjadi 131.356 ekor, dan menginjak tahun 2007 lalu populasi itu kembali mengalmi peningkatan menjadi 135.568 ekor. Dari tiga tahun terakhir itu persentase kenaikan populasi sapi Bali di Buleleng sebesar 5,76 persen.

Menurut Ardika, terjadinya peningkatan populasi sapi Bali itu tidak terlepas dari upaya pemerintah kabupaten untuk terus menjaga kelestarian sapi Bali dengan berbagai cara. Misalnya pemberian bantuan bibit sapi Bali yang menyasar seluruh kelompok peternak sapi di Buleleng. Tahun ini bantuan bibit ternak sapi Bali dialokasikan sebanyak 450 ekor dengan estimasi sasaran 45 kelompok ternak.

Bupati Gianyar Tjok. Oka Artha Ardhana Sukawati, disela mengunjungi panen perdana ternak sapi Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Darma Laksana Banjar Dangin Jalan Desa Guwang Sukawati Gianyar beberapa waktu lalu memberikan memotivasi kepada anggota kelompok ternak yang ada di Gianyar untuk lebih meningkatkan sektor peternakan khususnya sapi Bali menyusul adanya Rumah Potong Hewan (RPH) di Desa Temesi. Kebutuhan daging sapi per hari yang jumlahnya 100 ekor untuk Gianyar belum bisa dipenuhi. 'Untuk itu, peluang bagi peternak untuk memelihara lebih banyak lagi ternak sapi. Jika memelihara lebih banyak maka keuntungan akan lebih banyak lagi,' tegasnya.

sumber: bali post 


Tags:  Berita Terbaru Berita Terbaru Ancaman Penyakit Pandemi Jemberana
Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Tag it:
Delicious
Furl it!
Spurl
Digg
Reddit
YahooMyWeb
NewsVine
< Sebelumnya   Berikutnya >
Creative Commons License