eXTReMe Tracker
OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.

Login

Kommentar Terakhir

no comments
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday286
mod_vvisit_counterYesterday455
mod_vvisit_counterThis month8495
You are here: Home arrow Kategori Artikel arrow Peternakan arrow Penyakit Jembrana (JD)

Download Our Toolbar. Free, Private and Secure
Aug 13 2008
Penyakit Jembrana (JD) PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh admin   
Wednesday, 13 August 2008
Etiologi
Penyakit jembrana (JD) adalah penyakit menular akut pada sapi Bali yang disebabkan oleh Retrovirus, keluarga lentivirinae yang termasuk dalam famili retroviridae.

Kejadian di Indonesia
Sejauh ini Penyakit Jembrana (JD) hanya terkenal di Indonesia dan hanya menyerang sapi bali.
Wabah pertama terjadi tahun 1964 – 1967 dikabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, Tabanan, dan Buleleng adalah wabah terbesar.
Daerah yang pernah melaporkan adanya wabah akan menjadi daerah enzootic yang mengalami kasus sporadik sepanjang tahun.

Hewan rentan
Penyakit jembrana (JD) hanya menyerang sapi Bali, sebegitu jauh penyakit jembrana tidak ditemui pada rumpun sapi yang lain. Sapi yang terserang berumur lebih dari 1 tahun dan yang terbanyak 4 – 6 tahun dan jenis kelamin tidak mempengaruhi kejadian penyakit ini.

Cara penularan
Sumber Infeksi: sampai saat ini belum diketahui dengan pasti sumber infeksi dari penyakit jembrana ini.
Peranan vecto : lewat penyakit insect born, Ex : Culicoides sp dan nyamuk

Gejala klinik
  • Pada sapi yang terserang penyakit jembrana (JD), Suhu berkisar antara 39°C – 42°C. pada suhu Suhu diatas 40°C dapat berlangsung selama 3 – 5 hari, dan kemudian akan diikuti penurunan suhu, namun pada derajat subnormal sapi akan mati.
  • Pembengkakan kelenjar limfe
  • Sapi yang sakit dapat terjadi Diare dengan tinja atau feses lembek, profus sampai tercampur darah
  • Erosi ringan sampai nekrosis terbatas epitel selaput lendir mulut
  • Pada sapi betina yang sedang bunting diatas 6 bulan akan mengalami keguguran
  • Gejala keringat darah
  • Perdarahan pada mata
  • Demam, anoreksia, lesu, pernapasan dan detak nadi cepat
  • Leucopenia disertai dengan leukositosis.

Perubahan pasca mati
  • gejala sepsis
  • kelenjar limfe superficial prefemoralis dan prescapularis sangat membengkak, bidang sayatan basah dan berdarah dengan warna kelabu kemerahan tua
  • erosi ringan sampai nekrosis superficial epitel selaput lender mulut
  • selaput lender usus ada radang bersifat katar, mucus sampai hemoragis
  • gejala has pada rectum adanya perdarahan berupa garis seperti zebra cross
  • hemoragi dinding empedu, dinding empedu menebal dan isinya mengental
  • pada otak ditemukan hiperemi


Diagnosa
Pengambilan dan pengiriman sample
-    bahan pemeriksaan laboratorium : limfa, kelenjar limfe, hati, ginjal, adrenal dan darah
-    untuk bahan isolasi : limfa dan kelenjar limfe dikirim dalam termos berisi dry ice dan pengiriman dilakukan secepat mungkin
-    untuk preparat histopatologik : kelenjar limfe, limfa hati, ginjal, adrenal otak dikirim dalam formalin 10 %

Diagnosa laboratorium
  • pewarnaan giemza terlihat intra sitoplasmik bergerombol atau satu – satu berwarna coklat kehitaman, berbentuk coccoid, diplococcoid atau batang
  • isolasi dilakukan dengan penyuntikan intra peritoneal pada mencit atau marmot jantan atau inokulasi telur bertunas secara intra kuning telur atau pada biakan cell
  • pemeriksaan secara histopatologik ditemukan kerusakan endotel dan proliferasi epitel pembuluh darah, perivaskular cuffing pada otak tidak ada
  • pemeriksaan secara virologic diberi antibiotic kemudian disuntikkan pada kantong kuning telur dari telur bertunas berumur 5 – 6 hari atau pada sapi rentan atau pada biakan cell

Diagnosa banding
  • Coryza dan Rinderpest
  • SE
  • Piroplasmosis

Pencegahan dan pengendalian
Pencegahan: pemberian vaksin jembrana, yang disiapkan dari plasma hewan yang ditulari secara buatan
Pengendalian dan pemberantasan
-    hewan sakit harus benar benar diisolasi
-    hewan mati segera dikubur yang dalam
-    pemusnahan vector
-    penyemprotan dengan pestisida dapat diulang setiap 1 – 2 minggu

Pengobatan
-    antibiotic untuk pencegahan infeksi sekunder

Tags:  Artikel Peternakan Penyakit Jembrana (JD) jembrana penyakit JD disease Retrovirus lentivirinae famili retroviridae penyebab penularan sapi bali perubahan pasca mati pencegahan pengendalian diagnosa
Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Tag it:
Delicious
Furl it!
Spurl
Digg
Reddit
YahooMyWeb
NewsVine
< Sebelumnya   Berikutnya >

Artikel Terkait

Creative Commons License