|
Retensi plasenta atau retensi membran fetus merupakan kondisi umum yang terjadi pada hewan terutama sapi perah. Secara fisiologis membran fetus dikeluarkan pada waktu 3-8 jam post partus. Jika plasenta menetap lebih lama dari 8-12 jam maka kondisi ini dianggap patologis dan terjadilah retensi plasenta.
Pada dasarnya retensi plasenta adalah kegagalan pelepasan villi kotiledon fetal dari kripta karunkula maternal. Sesudah fetus keluar dari korda umbilikalis putus, tidak ada darah yang mengalir ke villi fetal dan villi tersebut berkerut dan mengendur. Uterus terus berkontraksi dan sejumlah darah yang tadinya mengalir ke uterus sangat berkurang. Karunkula meternal mengecil karena suplai darah berkurang dan kripta pada karunkula berdilatasi. Pada retensi plasenta, pemisahan dan pelepasan villi fetalis dari kripta maternal terganggu dan terjadi pertautan.
Etiologi Penyebab terjadinya retensi menurut Toeliehere (1985) adalah adanya infeksi uterus selama kebuntingan. Jasad-jasad renik seperti Brucella abortus, Tuberculosis, Camphylobacter foetus dan sebagian jamur menyebabkan Plasentitis dan Cotyledonitis yang mengakibatkan abortus atau kelahiran patologis dengan retensio secundinae. Adanya kelemahan dan atoni uterus karena berbagai penyakit juga bisa mengakibatkan retensi plasenta. Penyebab lain terjadinya retensi plasenta menurut Partodiharjo (1980) adalah gangguan mekanis yaitu selaput fetus yang sudah terlepas dari dinding uterus, tetapi tidak dapat terlepas, dan keluar dari alat kelamin karena masuk ke dalam kornu uteri yang tidak bunting, kurangnya kekuatan untuk mengeluarkan sekundinae setelah melahirkan dan gangguan pelepasan sekundinae dan karunkula dari induknya.
Gejala klinis Gejala pertama yang sering terlihat adalah selaput fetus yang menggantung di luar vulva 12 jam atau lebih sesudah kelahiran normal, abortus atau distokia. Kadang selaput fetus tidak keluar melewati vulva tetapi menetap di dalam uterus dan vagina. Sekundinae sering menggantung sampai jauh ke bawah, sehingga dapat terinjak sapi lain. Kadang-kadang ada rasa sakit perut, ekor digerak-gerakkan, bagian belakang kaki menjadi kotor dan terlihat kontraksi uterus yang lemah. Ada bau spesifik dari alat kelamin yaitu bau sekundinae yang mulai mengalami pembusukan. Kotoran berwarna coklat keluar dari kelamin yang mengotori ekor, pantat, dan kaki belakang. Induk kelihatan depresi, produksi air susu menurun karena nafsu makan menurun, respirasi cepat, suhu tubuh meningkat.
Pemeriksaan Pemeriksaan terhadap selaput fetus sebaiknya dilakukan sesudah partus untuk mengetahui terjadinya retensi atau tidak. Pemeriksaan melalui uterus harus dilakukan dalam waktu 24–36 jam. Sesudah 48 jam biasanya sulit atau tidak mungkin memasukkan tangan ke dalam uterus kalau tidak ada selaput fetus di dalam servik. Adanya selaput fetus dalam servik cenderung menghambat kontraksi servik.
Pengobatan Pertolongan terhadap retensi menurut Hardjopranjoto (1995) ditujukan pada pengeluaran sekundinae atau plasenta dari alat kelamin secepat-cepatnya dan diupayakan agar kesuburan induk penderita tetap baik. Penyuntikan subkutan atau intramuskuler horman oksitosin dengan dosis 100 IU untuk hewan besar. Tujuannya untuk mendorong kontraksi uterus. Pertolongan lain yang dapat dilakukan dengan pengeluaran sekundinae secara manual. Dianjurkan pelepasan ini dilakukan sebelum 48 jam pasca lahir. Bila ada infeksi, setelah selesai mengeluarkan sekundinae, diadakan pencucian dengan larutan antiseptik intrauterin seperti rivanol 1%. Pengobatan umum yang harus diberikan pada induk yang menderita retensio secundinarum adalah memberi ransum pakan yang baik dan mudah dicerna, kandang yang bersih, udara bersih, bebas dan cukup terang. Tags: Artikel Peternakan Retensi plasenta
|
kami membutuhkan info perusahaan peny...
Mohon maaf sebelumnya. Hendaknya kata2 vir...