Pilih Bahasa:
Login
Main Menu
| Home |
| Berita Terbaru |
| Kategori Artikel |
| Kirim Berita |
| Pencarian |
| Kontak |
| Tentang Kami |
| Forum Diskusi |
| Buku Tamu |
| Link Exchange |
| Pencarian Terbanyak |
| Sitemap |
Kommentar Terakhir






![]() | Today | 183 |
![]() | Yesterday | 518 |
![]() | This month | 2590 |
You are here: Home
Kategori Artikel
Peternakan
Retensi plasenta
Kategori Artikel
Peternakan
Retensi plasenta
Jun
16
2008
| Retensi plasenta |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin | |||||||
| Tuesday, 17 June 2008 | |||||||
|
Fisiologi Normal Plasenta Plasenta terdiri dari dua bagian, yaitu plasenta foetalis (allanto khorion) dan plasenta maternalis atau endometrium. Pengertian Retensi Plasenta Pada peristiwa kelahiran yang normal, selaput fetus (sekundinae) akan keluar dari alat kelamin induknya dalam waktu 1-12 jam setelah kelahiran anaknya. Penyebab retensi plasenta 1.Gangguan mekanis (kasus 0.3%), yaitu selaput fetus yang sudah terlepas dari dinding uterus tetapi tidak dapat terlepas dan keluar dari alat kelamin karena masuk ke dalam kornu uteri yang tidak bunting, atau kanalis cervikalis yang terlalu cepat menutup, sehingga selaput fetus terjepit. 2.Selaput fetus tersangkut pada tangkai karunkula yang besar, mungkin juga karena celah pada mukosa uterus cepat mengecil sehingga jonjot khorion makin terjepit. 3.Induknya kekurangan kekuatan untuk mengeluarkan plasenta setelah melahirkan disebabkan adanya atoni uteri pasca melahirkan dan defisiensi hormon yang menstimulir kontraksi uterus pada waktu melahirkan, seperti oksitosin dan estrogen. 4.Gangguan pelepasan sekundinae dari karunkula induknya. Ini adalah kasus yang paling sering terjadi 1.Retensi plasenta disebabkan adanya radang yang akut, disertai adanya infiltrasi lemak dalam plasenta, misalnya plasentitis atau kotiledonitis. Brucella abortus Tubercullosis Campylobacter foetus Berbagai jamur Menyebabkan plasentitis dan kotiledonitis yang mengakibatkan abortus atau kelahiran patologik dengan retensi plasenta 2.Retensi plasenta dapat disebabkan faktor yang bukan peradangan, (non infection). Termasuk golongan penyebab ini adalah: a. Terlalu cepat melahirkan (partus prematura) b. Faktor alergi c. Induk yang kekurangan vitamin dan mineral selama bunting d. Pemberian obat penguat yang diberikan menjelang partus Akibat retensi plasenta pada ternak khususnya pada sapi: 30% akan mati atau dipotong 20% induknya menjadi steril terutama pada retensi plasenta yang pertolongannya terlambat 50% induknya menderita steril sementara pada pertolongan yang lebih cepat dilakukan, yang kemudian dapat sembuh dengan kesuburan yang normal. Gejala 1. selaput fetus yang menggantung di luar alat kelamin 2. Bibir vulva menjadi bengkak dan berwarna kemerah merahan, ada titik-titik merah pada mukosanya. 3. Plasenta dapat menutupi pintu ke luar saluran kencing (meatus urinarius), sehingga induk susah kencing. 4. Plasenta dapat menutupi pintu ke luar saluran kencing, sehingga induk susah kencing 5. Kadang kadang ada rasa sakit perut, ekor di gerak gerakkan, bagian belakang kaki menjadi kotor, terlihat adanya kontraksi uterus yang lemah 6. bau yang spesifik dari alat kelaminnya (bau plasenta yang mulai busuk) 7. Kesehatan induk terganggu dan kelihatan depresi, produksi air susu dapat menurun karena nafsu makan menurun, respirasi cepat, suhu tubuh menjadi meningkat 8. kotoran berwarna coklat keluar dari alat kelamin sehingga mengotori ekor, pantat, dan kaki bagian belakang Komplikasi yang sering terjadi antara lain: 1. Metritis atau metro-peritonotis bila terjadi luka besar atau robeknya dinding uterus sewaktu pertolongan retensi plasenta. 2. Vaginitis kronis atau vagina berisi kotoran (leukorue) bila terjadi peradangan atau luka pada vagina. 3. Tetanus dapat terjadi akibat masuknya kuman tetanus dari lantai kandang, melalui plasenta yang keluar masuk alat kelamin sewaktu induk berbaring dan berdiri. Diagnosa 1. Berdasarkan adanya plasenta yang keluar dari alat kelamin. Bila plasenta hanya tinggal sedikit dalam alat kelamin, diagnosa dilakukan dengan eksplorasi vaginal memakai tangan dengan terabanya sisa-sisa plasenta atau kotiledon yang teraba licin karena masih terbungkus oleh selaput fetus 2. Karunkula yang sudah terbebas dari dari lapisan plasenta, akan teraba seperti beludru. Pengobatan Tujuan pengobatan adalah untuk mendorong terjadi kontraksi uterus sehingga menyebabkan keluarnya plasenta. Penyuntikan sub kutan atau intra muskuler hormon oksitosin dengan dosis 100 IU adalah untuk pengobatan pada hewan besar domba, kambing, dan babi dosisnya 30-50 IU, disuntikkan subkutan Anjing, kucing dengan dosis 5-30 IU (menurut berat badan anjing dan kucing), disuntikkan subkutan. Pengobatan lain pada sapi dengan preparat dietilstibestrol dalam larutan minyak sebanyak 15-60 mg secara intramuskuler dan diulangi selama 4 hari. Domba, kambing dan babi dosisnya adalah 0,5 mg suntikan intramuskuler. Pertolongan lain dapat dilakukan dengan pengeluaran plasenta secara manual. Pelepasan plasenta dilakukan bila hubungan antara selaput fetus dan karunkula mudah dipisahkan. Dianjurkan pelepesan dilakukan sebelum 48 jam pasca lahir. Bila ada infeksi, maka setelah mengeluarkan plasenta diadakan pencucian dengan larutan antiseptis intra uterina seperti rivanol 1% atau larutan antiseptis lain. Untuk mencegah metritis setelah plasenta di keluarkan, pada sapi dapat diberikan kombinasi penicillin sebanyak 1 juta IU dan dihirostreptoimicin 1 gram yang dilarutkan dalam akuades sebanyak 50 ml, selanjutnya larutan antibiotika ini dimasukkan ke dalam uterus. Obat antibiotika lain pada retensi plasenta karena infeksi, adalah klortetrasiklin (aureomicin) dari 500 mg dalam bentuk bolus dan dimasukkan 2 bolus dalam uterus, oksitetrasiklin (terramisin) dalam kapsul sebanyak 250 mg, dimasukkan empat kapsul dalam uterus. Tags: Artikel Peternakan Retensi plasenta plasenta foetalis plasenta maternalis endometrium selaput fetus
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya |
|---|
Artikel Terkait
- kolibasilosis pada unggas
- Newcastle Disease
- pneumonia pada sapi
- Tubercolusis pada sapi
- Penyakit marek's pada unggas
- Leptospirosis pada babi
- ascariasis pada unggas
- Infectious Laryngotracheitis (ILT)
- Dilatasi Esofagus
- Neoplasia akibat infeksi Spirocerca lupi
- Helminthiosis
- cacar unggas (Avian Pox)
- Gumboro (Infectious Bursal Disease)
- Infectious Bronchitis (Bronkhitis Infeksiosa) pada unggas
- Chronic Respiratory Disease (CRD)
- Snot (Coryza) pada ayam
- Berak Kapur atau Pullorum pada unggas
- Eimeria yang sering menyerang unggas
- Berak Darah (Koksidiosis)
- Pasteurellosis atau Kolera unggas
- Abortus pada sapi yang disebabkan oleh jamur
- Brucellosis pada sapi
- vibriosis atau campilobakteriosis pada sapi
- Penyakit rabies
- Canine Parvovirus pada anjing
- Breeding pada Anjing Pomeranian
- Giardiasis pada anjing
- Cara Memilih Kucing Persia Sebagai Indukan
- Periode atau Masa Kebuntingan Pada Kucing
- Defisiensi nutrisi pada ayam
- Ascaridia galli pada unggas
- Metode Perkawinan kucing Persia
- Persiapan sebelum partus atau melahirkan pada kucing
- Persiapan ketika kucing akan melahirkan
- Program Vaksinasi Pada Kucing
- Ctenocephalides felis pada kucing
- Otitis Interna
- Otitis eksterna pada anjing dan kucing
- Penyakit heartworm disease
- Susu (Colostrum) pengganti untuk anjing
- Ancylostomiasis Pada Anjing
- Rhipicephalus Sanguineus pada anjing
- Distemper anjing atau canine distemper
- Stasiun Karantina Cilacap Musnahkan Sapi Impor Selandia Baru
- Penyakit mulut dan kuku
- Penyakit Jembrana (JD)
- Koksidiosis pada anjing dan kucing
- Dermatitis pada hewan kesayangan
- Scabies
- Flu pada kucing (Feline Viral Rhinotracheitis)
- Pertimbangan Sebelum Kucing dibawa Ke Tempat Tidur
- Feline Calicivirus Disease (FCD)
- AIDS pada kucing (Feline Immunodeficiency Virus)
- Feline Panleukopenia
- Yellow fever
- Breeding Soundness Examination (BSE) pada sapi
- Kurangi daging demi lingkungan
- Prolapsus Uteri
- Retensi plasenta pada sapi perah
- AS Imbau Hindari Susu Formula Buatan Cina
- Supermarket di Kebumen Jual Susu Kadaluarsa
- Inseminasi Buatan (IB) atau Kawin Suntik
- Listeriosis pada sapi
- Mumifikasi fetus
- Hubungan antara gangguan ovulasi dengan infertilitas
- cascado
- Taeniasis pada babi
- Penyakit sapi gila
- AWAS, Daging Kimia Beredar!
- Sapi Kaki Lima Dihargai 100juta
- Gas Buangan Kanguru Hambat Pemanasan Global
- Avian Influenza Pada Unggas
- BPOM Gorontalo Minta Susu Qashmir Ditarik
- 2 Pasien di Boyolali Positif Anthrax
- Dari Sapi Bali Lahir Sapi Unggul























Mau nanya, kalo lalat berperan sebaga...